Pewarna Makanan Buatan Bisa Sangat Mematikan!

Advertisement:
Selain harus menghindari atau mengurangi pemanis buatan, untuk hidup sehat kita juga harus menghindari atau mengurangi sebanyak mungkin mengkonsumsi makanan minuman yang mengandung pewarna buatan (artifical food coloring). Mengapa demikian? Tak lain karena tidak ada fungsi atau faedah apapun warna terhadap gizi makanan minuman yang kita nikmati. Hanya sebagai pemikat atau mempercantik tampilan produk saja. Sehingga dibeli, dimakan atau malah kita bagi-bagikan ke orang-orang terdekat.
pewarna buatan bisa sangat berbahaya
Lihat wana kue ini! Anda bernyali besar jika berani memakannya. Rasanya mungkin enak. image: google.com


Di pasar, kita akan menjumpai ada banyak sekali produk -boleh dibilang 99% produk- yang mengandung pewarna. Apalagi untuk produk makanan minuman anak-anak sebab warna menjadi daya tarik utama. Entah itu pewarna alami atau pewarna buatan. Lebih mengerikan penggunaan pewarna dalam industri makanan minuman dibandingkan penggunaan pemanis buatan. Tidak semua makanan minuman rasanya harus manis. Sebaliknya semua makanan minuman pasti ada warnanya kecuali mungkin air mineral. Coba Anda sebutkan mana ada makanan minuman yang tampak bening atau pucat putih polos selain air mineral dan bubur atau nasi putih. Jadi mesti kita waspadai bersama-sama. Biaya berobat atau biaya konsultasi ke dokter tidaklah murah.

Dahulukan makanan minuman yang menggunakan pewarna alami (natural food coloring) misalnya berbahan daun-daunan, buah-buahan atau hewan. Beberapa bahan pewarna alami untuk makanan minuman seperti ini misalnya: 
  • Hijau asli daun pandan, daun teh hijau atau daun suji.
  • Merah asli buah bit, strawberry atau beras angkak.
  • Hitam asli biji kopi.
  • Cokelat asli bubuk cokelat, gula merah atau buah asam.
  • Karamel asli dari cairan gula yang dipanaskan.
  • Kuning asli kunyit.
  • Dsb. 
Biasanya terbatas sekali warnanya dan hanya warna-warna dasar saja. Namun jika tidak ada pilihan tersebut atau tidak ada informasi mengenai penggunaan pewarna alami tersebut, ya minimal tingkat pengkonsumsiannya dikurangi atau dibatasi.

Pewarna kedua yang bakalan kita temukan adalah pewarna buatan (artificial coloring) atau pewarna sintesis. Ada dua macam yakni:
  1. Pewarna untuk produk non pangan (non food grade).
  2. Pewarna untuk produk pangan (food grade).

Hindari sejauh mungkin membeli, mengkonsumsi atau memakan makanan minuman yang menggunakan pewarna bukan untuk makanan (non food grade). Jangan dibeli atau dimakan sama sekali meski cuma secuil atau coba-coba. Tidak ada manfaatnya. Yang ada malah dapat penyakit yang sangat berbahaya seperti kanker, tumor, dsb. Pewarna jenis ini sebenarnya untuk mewarnai produk-produk industri lain seperti cat, minyak, tekstil, tas, mesin-mesin, kosmetik, dsb. Bukan untuk mewarnai produk makanan minuman. Meski demikian ada pengusaha atau pembuat makanan minuman yang menggunakannya karena lebih hemat, lebih menguntungkan atau lebih bagus warnanya. Mereka yang kaya tetapi kita dan anak kita yang menderita.

Bagaimana dengan pewarna food grade? Meski disebut layak atau aman untuk makanan minuman tetapi ini tetap pewarna buatan. Kalau bisa dihindari atau dikurangi. Kata-kata "food grade" jangan sampai membius kita bahwa ini aman. Mungkin aman untuk sementara atau dosisnya tepat. Tetapi siapa yang menjamin penggunaannya selalu tepat? Makan sedikit saja tidak masalah tetapi jika terus dimakan bukankah ini menumpuk di dalam tubuh dan bisa sangat berbahaya?

Berbagai istilah pewarna buatan untuk makanan minuman (food grade) mudah kita kenali. Sebab di dalam kemasan setiap produk pasti mencantumkannya. Kodenya biasanya diawali dengan huruf "E". Contoh misalnya E129 untuk warna merah (allura red), E110 untuk warna kuning (sunset yellow), dsb. Selain kode E mungkin juga kode-kode lainnya tergantung dari negara mana produk makanan itu berasal atau dibuat. Celakanya, 99,9% makanan minuman yang dijual di supermarket ada kode-kode seperti ini.

Cara Membedakan Pewarna Alami dan Pewarna Buatan

Cara termudah untuk bisa membedakan penggunaan pewarna buatan atau pewarna alami adalah melihat informasi komposisi sebuah produk. Jika itu adalah produk kemasan yang tahan lama yang biasanya dijual di rak-rak supermarket maka jika ada kode-kode E seperti yang kami jelaskan di atas maka dipastikan menggunakan pewarna buatan. Jadi gampang sekali. Masalahnya hampir sulit mencari produk kemasan yang menggunakan pewarna alami. Sebab produk kemasan dibuat agar tahan lama dengan zat-zat pengawet sementara pewarna alami bisa tidak tahan lama warnanya.

Yang lebih sulit dibedakan adalah produk-produk non kemasan tetapi yang kita jumpai sehari-hari di pasar tradisional. Coba lihat warnanya apakah tampak sangat mencolok atau tidak? Jika hijaunya tampak lain sampai pekat kehitaman atau hijaunya lebih mengkilap dan tampak menarik mata, bisa jadi itu menggunakan pewarna buatan. Bukan hijau asli daun pandan, teh hijau, daun suji atau daun-daun berklorofil lainnya. Kita bisa bertanya sekilas kepada si penjual apakah warnanya hijau alami atau pewarna makanan. Jika dijawab hijau alami baru kita beli atau konsumsi, sebaliknya jika pewarna buatan kita hindari atau cukup beli seadanya.

Tips berikutnya adalah merasakan aroma dari produk makanan minuman tersebut. Tak ayal, pewarna alami kadang bisa mempengaruhi aroma sebuah makanan atau minuman. Sebab merupakan ekstrak dari daun-daunan, buah-buahan atau hewani. Jadi baunya pasti beda. Makanya ada orang yang menghindari pewarna alami karena alasan teknis seperti ini bukan karena alasan kesehatan bersama. Sebaliknya jika warna makanan minuman sudah pekat tetapi tidak terasa aroma asli buah atau daun-daunan tersebut, bisa saja itu adalah pewarna buatan.

Berdoalah jangan sampai makanan minuman yang kita makan sehari-hari atau kita beli buat jajan anak-anak justru pewarna non food grade seperti pewarna tekstil, cat, kosmetik, dsb.
 
berikutnya >> Pengawet Buatan

Sponsored links:
Share on Google Plus

Tentang KonsumenReview. com

Konsumenreview.com adalah tempat terbaik melihat hasil review dan komentar dari masyarakat Indonesia seputar produk (barang jasa) yang ada di sekitar kita. Ikutlah berpartisipasi menginspirasi rekan-rekan lainnya.
    Blogger Comment
    Facebook Comment